Menyusuri 50 tahun perjalanan Bluebird mengabdi pada negeri

Jakarta (ANTARA) – Sebelum menyandang nama PT. Blue Bird Tbk sebagai perusahaan besar, Bluebird Group hanyalah layanan taksi biasa yang dikelola oleh keluarga kecil yang ditinggal kepala keluarganya secara mendadak.

Jika ditelusuri sejak awal berdiri, Bluebird rupanya tak mudah menjadi sebesar sekarang dan pada akhirnya berhasil menjadi satu-satunya merek taksi yang tak mungkin tak diketahui masyarakat di Tanah Air.

“Nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh pendiri Bluebird, terutama Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, yaitu kejujuran, disiplin, kerja keras, serta kekeluargaan, telah berhasil membawa kami hingga 50 tahun saat ini,” ungkap Komisaris Utama Bluebird Noni Purnomo.

Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, merupakan seorang ibu tunggal yang menjadi dalang di balik kesuksesan Bluebird Group yang kini memiliki lebih dari 20 ribu armada dan 23 ribu karyawan yang beroperasi pada 48 pool di 18 kota di seluruh Indonesia.

Setelah kepergian suaminya, Djokosoetono, yang merupakan seorang pakar hukum pada tahun 1965, Mutiara tak tinggal diam lantaran harus membiayai ketiga anaknya untuk hidup. Meski sudah memiliki bisnis telur yang sukses, namun usaha tersebut dirasa belum cukup stabil untuk membiayai keperluan sehari-hari dan ke depannya.

Tak patah semangat, Mutiara memiliki ide untuk membuka bisnis taksi dari dua buah mobil sedan bekas, yakni Opel dan Mercedes yang mereka miliki. Bisnis taksi keci-kecilan tersebut diberi nama Taksi Chandra, yang diambil dari nama putera pertama Mutiara.

Bisnis taksi itu pun terus berjalan dan pada tahun 1972, usaha taksi Keluarga Djokosoetono resmi memiliki izin dan memiliki nama Bluebird.

Mengutip buku perjalanan inspiratif Blue Bird Group berjudul Sang Burung Biru yang dirilis pada tahun 2012, nama Bluebird diambil Mutiara dari kisah burung biru dalam film berjudul Bird of Happiness yang terkenal di Hollywood.

Dari pemberian izin tersebut, Bluebird resmi menjalankan armada pertamanya sebanyak 25 unit di aspal Ibu Kota Negara.

Melansir laman resmi Blue Bird Group, Bluebird menjadi taksi pertama yang menggunakan sistem tarif berdasarkan argometer dan pada awal berjalan telah dilengkapi sistem radio untuk kemudahan penyebaran pemesanan yang didukung sistem operator terpusat.

Pada tahun 1981, taksi Bluebird dengan armada Holden Torana generan 80-an, sudah menggunakan penyejuk udara atau air conditioner untuk menambah kenyamanan tamu. Kemudian pada tahun 1993, dilakukan peresmian taksi eksekutif Bluebird bernama Silverbird.

Bermula dari Silverbird, anak perusahaan Bluebird pun kian berkembang dan kini perusahaan grup ini sudah memiliki hampir 20 anak perusahaan yang tak kalah sukses, antara lain PT Silver Bird, PT Trans Antarnusa Bird, PT Big Bird Pusaka, PT Lombok Taksi Utama, dan PT Praja Bali Transportasi.

Di tahun 2004, armada Bluebird dilengkapi dengan aplikasi Radio Mobile Data Terminal dan Device SIgteg untuk kemudahan penyebaran pemesanan ke setiap taksi. Selanjutnya pada tahun 2007, armada Bluebird ditingkatkan dengan peresmian taksi eksekutif pertama di Indonesia dengan menggunakan Mercedez Benz.

Untuk memberikan formalitas kepada seluruh pengemudi Bluebird Group dan sebagai pengabdian kepada bangsa, di tahun 2010 batik diresmikan sebagai seragam resmi Bluebird. Setahun kemudian, Bluebird kembali berinovasi dengan peresmian aplikasi pesan taksi melalui ponsel pintar pertama di dunia untuk Blackberry, yakni Taxi Mobile Reservation.

Aplikasi itu tentunya semakin mempermudah seluruh pelanggan dalam memesan taksi Bluebird. Sementara Bigbird, anak usaha Bluebird meluncurkan varian Premium Bus kelas VIP dengan kapasitas 12 kursi pada dua tahun kemudian, tepatnya pada 2012.

Selang beberapa tahun setelah perusahaan terus berkembang, di tahun 2014, Bluebird melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham BIRD. Perusahaan memberikan harga perdana sebesar Rp6.500 per saham kala itu.

Emiten BIRD melepas sebanyak 376,5 juta lembar saham atau sebesar 15 persen dari modal ditempatkan dan modal disetor penuh perseroan setelah penawaran umum perdana. Dari pencatatan perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) itu, tercatat dana yang dihimpun sebesar Rp2,44 triliun.

Pada tahun 2015, perusahaan ini meluncurkan Bluebird MPV, yakni layanan taksi dengan fasilitas Kendaraan Multi Guna (Multi Purpose Vehicle/MPV) pertama di Indonesia. Taksi MPV cenderung dapat digunakan sebagai pengangkut penumpang sekaligus barang.

Meski sudah memiliki pesaing yang cukup banyak di Tanah Air, rupanya Bluebird mulai menemukan kompetitor yang sangat berat saat taksi daring atau online muncul. Dari persaingan tersebut, Bluebird Group semakin memutar otak untuk melakukan inovasi yang tidak biasa dan mengikuti perkembangan zaman yang serba digital.

Menjawab tantangan yang ada, Bluebird meluncurkan aplikasi My Blue Bird pada tahun 2016 dengan menampilkan fitur Taxi Nearby, Advance Booking, Estimated Cost, Call and Tracking Driver, dan berbagai promosi menarik untuk pengguna ponsel pintar Android maupun iOS.

Baca juga: Blue Bird rilis visi keberlanjutan kurangi 50 persen emisi hingga 2030

Kolaborasi

Pada 2017, Bluebird berkolaborasi dengan PT. Karya Anak Bangsa (GoJek) dengan menghadirkan pilihan layanan Go-Bluebird di aplikasi GoJek sebagai tambahan multichannel acces untuk pelanggan setia dalam menggunakan layanan taksi Bluebird.

Bluebird juga berkolaborasi dengan Traveloka agar pengguna platform penyedia layanan perjalanan daring tersebut bisa memesan angkutan komuter dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta yang disediakan oleh Bigbird dan Goldenbird.

Berbagai kolaborasi dengan platform digital menjadi bukti keseriusan Bluebird dalam mengikuti perkembangan teknologi. Bahkan, pemerintah mengapresiasi berbagai langkah kerja sama tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pada saat itu berharap kolaborasi Bluebird dengan berbagai platform daring bisa ditiru dan disosialisasikan dengan baik.

Apalagi ke depannya potensi ekonomi digital di Indonesia akan cukup besar, dengan perkiraan 81 miliar pengguna ponsel pintar pada 2025. Potensi tersebut harus menjadi peluang bisnis bagi taksi konvensional maupun platform daring dan membuat harmonisasi kemudahan akses transportasi bagi masyarakat.

Tak berhenti samapai disitu, pada tahun 2018 perusahaan meluncurkan fitur Fixed Price di My Bluebird, sehingga penggunanya bisa mendapatkan kepastian harga sebelum memesan taksi.

Di tahun yang sama, Menteri Pariwisata Arief Yahya menetapkan Bluebird sebagai Service Ambassador Wonderful Indonesia, yang menjadi bagian dari kerja sama Program Visit Wonderful Indonesia (ViWi) 2018. Dengan kerja sama itu, sebanyak 20 ribu taksi Bluebird dipasangi logo Wonderful Indonesia.

Perusahaan kemudian menjalin kerja sama dengan PT Bank Tabungan Negara atau BTN untuk menyediakan pembiayaan perumahan bagi para pegawainya.

Terus berekspansi, pada tahun 2019 Bluebird melalui anak usahanya PT Trans Antar Nusabird untuk mengakuisisi Cititrans, sebuah penyedia jasa angkutan komuter antar kota dan komuter eksekutif, dengan nilai Rp115 miliar.

Akuisisi ini merupakan langkah strategis dari Cititrans dan Blue Bird Group dalam memperluas jangkauan Cititrans memenuhi kebutuhan masyarakat akan sebuah transportasi shuttle yang aman, nyaman, dan terpercaya, khususnya di area Jawa.

Bluebird pada tahun 2019 turut meluncurkan taksi listrik pertama dengan mengusung armada BYD e6 untuk e-Bluebird dan Tesla X untuk e-Silverbird.

Perusahaan kemudian menjalin kerja sama dengan Telkomsel untuk mengimplementasikan The Internet of Things (IoT) di armadanya, serta berkolaborasi dengan penyedia dompet digital DANA agar dapat menjadi salah satu metode pembayaran di aplikasi My Bluebird.

Pada tahun 2020, GoJek resmi membeli 4,3 persen saham Bluebird dengan harga Rp411 miliar. Co-CEO GoJek Andre Soelistyo menilai dalam menjadi salah satu layanan platform terbesar untuk konsumen di Asia Tenggara, pihaknya membutuhkan mitra yang kuat seperti Bluebird.

“Peningkatan kerja sama dengan Bluebird merupakan bukti nyata dan memungkinkan kami untuk meningkatkan dua layanan utama kami di Indonesia, yaitu pembayaran dan transportasi,” tegas Andre.

Saat pandemi melanda COVID-19, beberapa armada Bluebird berhasil mengabdi kepada negeri bukan hanya melalui jasa transportasi, melainkan antara lain salah satunya lewat kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk menyediakan jemput-antar donor plasma konvalesen secara gratis.

Dengan perjalanan panjang yang sudah dilalui, tak terasa sudah kini Bluebird sudah 50 tahun menjadi salah satu perusahaan yang diandalkan di Indonesia dalam penyedia jasa transportasi. Ke depan diharapkan Bluebird bisa terus berinovasi agar semakin lebih baik dalam melayani masyarakat dan mengabdi kepada negeri.

Baca juga: 50 tahun si “Burung Biru” melayani negeri, Covid-19 dan pesan Ramadhan

Baca juga: Blue Bird kampanyekan #BirdbagiMasker

Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.