Pentingnya Memahami Pilar Literasi Digital agar Terhindar dari Kejahatan Siber

Sragen, NU Online

Menurut Wakil Ketua GLND Siber Kreasi, Mira Sahid ada empat pilar literasi digital yaitu: digital skills, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Keempat pilar tersebut jika mampu menguasai, memahami, dan mengaplikasikannya. Maka bisa terhindar dari kejahatan siber, dan juga kerugian-kerugian yang lain.

“Digital skills atau kecakapan digital ini terkait apa nih kira-kira? Terkait dengan kemampuan individu dalam mengetahui, memahami atau menggunakan perangkat keras, dan piranti lunak teknologi informasi dan komunikasi secara sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Mira Sahid pada Sosialisasi Literasi Digital Membangun Kemajuan Literasi Santri di Era Transformasi Digital di Pondok Pesantren An-Najah Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (30/7/2022).

Selain itu digital skills juga termasuk bagaimana cakap di ruang digital, yaitu bagaimana cara memproduksi konten, dan menyebarkan konten yang bisa menginspirasi orang lain. Bukan malah merugikan orang lain, atau malah menimbulkan perpecahan.

Digital culture atau budaya digital, pilar kedua yah. Untuk itu teman-teman ketika mau berinteraksi, mau membuat konten, mau menyebarkan konten sebaiknya teman-teman juga paham bahwa kita ini memiliki Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa artinya di dalam ruang digital harus sadar bahwa meskipun pendapat, opini, pikiran itu berbeda-beda. Tetapi harus bisa mengadakan ruang diskusi yang tetap menyenangkan, dan bukan perdebatan. Selain itu juga perlu untuk menyelaraskan nilai-nilai Pancasila pada kehidupan sehari-hari di ruang digital.

“Masuk ke pilar yang ┬áketiga, terkait dengan etika digital. Nah etika digital ini terkait dengan bagaimana kita memahami etika-etika yang ada di ruang digital, dan kita juga memahami kewajiban dan kebutuhan setiap warga net agar memiliki rekam jejak yang baik, dan benar,” ungkapnya.

Kemudian pilar literasi digital yang keempat adalah digital safety, atau keamanan digital. Menurut Mira Sahid ada lima hal hal yang perlu dilakukan agar aman di ruang digital yaitu pengamanan perangkat digital, pengamanan identitas digital, mewaspadai penipuan digital, memahami jejak digital, dan memahami keamanan digital bagi anak.

Mengapa Santri Perlu Terjun ke Konten Digital?

Media sosial sama besarnya dengan media-media online, maka hal tersebut  harus disambut oleh para santri dengan terjun ke konten digital. Menurut Redaktur Mojok.co, Syafawi Ahmad Qadzafi ada empat alasan mengapa santri perlu terjun ke konten digital.

“Santri kan dikenal sebagai kelompok belajar yang paling adaptif, bisa beradaptasi dengan kondisi. Di era digital saya pikir santri juga punya kelebihan itu. Kedua branding, santri juga punya citra tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia sebagai kelompok agama yang toleran dengan perbedaan,” ujarnya.

Menurutnya citra tersebut harus dikampanyekan, dalam artian untuk kampanye keindonesiaan di luar, memperkenalkan bahwa Indonesia punya tradisi santri, pembelajar, kelompok di usia tertentu yang tidak hanya jago soal keagamaan. Tetapi juga punya kepekaan untuk menyambut hal-hal yang berbeda.

“Kemudian santri perlu terjun ke konten digital karena konten radikalisme, konten kejahatan hampir setengah atau lima puluh persennya di Indonesia. Dan saya pikir santri salah satu garda terdepan untuk menanggulangi segala macam disinformasi yang nanti berakibat pada lahirnya kelompok ekstrim, atau radikal,” jelas Qadzafi.

Lebih lanjut ia menghimbau kepada para santri untuk memposting kegiatan di pondok pesantren, memposting apa yang guru sampaikan, baik itu di Twitter maupun Instagram sebagai jalan dakwah. Karena itu bagian dari cara menangkal radikalisme, dan ekstrimisme.

“Terus berikutnya banyak masyarakat perkotaan sekarang yang lebih religius di beberapa tahun ke belakang, dan masyarakat sekarang yang lebih religius di perkotaan membutuhkan informasi-informasi tentang keagamaan di internet. Kalau santri nggak terjun, mereka belajar dari siapa? akan sangat mengkhawatirkan kalau mereka belajarnya terhadap orang-orang yang cenderung ekstrem, atau cenderung radikal,” pungkasnya.

Konsekuensi Era Digital

Sementara itu Kepala Redaksi Detik Jateng, Muchus Budi menyebut bahwa era digital membawa kepada konsekuensi-konsekuensi baru. Pertama, orang tidak lagi melihat rak-rak buku ketika ingin mencari informasi, tetapi lewat internet. Kemudian kedua geger budaya.

“Saat ini terjadi geger budaya, geger budaya itu terjadi karena kita masyarakat dunia ketiga, dunia ketiga itu kayak Indonesia, dunia penerima informasi. Dari tradisi lisan, baru diusahakan masuk tradisi tulis. Lalu dari situ tradisi tulis belum dimulai, belum benar-benar sampai mentradisi harus masuk ke era digital,” pungkasnya.

Kontributor: Malik Ibnu Zaman

Editor: Fathoni Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *